GURU BELAJAR, GURU MENGAJAR dan INFORMASI PENDIDIKAN

Friday, 19 February 2016

6 PENYEBAB DEKADENSI MORAL DI INDONESIA



6 Penyebab Terjadinya Dekadensi Moral Dalam Kalangan Pemua-Pemudi Masyarakat Indonesia


1. Pembauran Dalam Kelas Belajar

Dengan mencampur antara siswa laki-laki dan siswa perempuan dalam sistem pendidikan, selain membawa banyak efek positif, juga memiliki dampak negatif.


Dampak positif yang bisa diambil sudah sistem sempurna dari sosialisasi siswa di mana sosialisasi antara orang-orang dari jenis kelamin yang berbeda terpenuhi. Selain itu, pembauran juga dapat melatih siswa untuk mengenal rasa kebersamaan.


Di TK atau tingkat SD, pembauran antara siswa laki-laki dan siswa perempuan, efek negatif tidak dapat dilihat dengan jelas karena siswa di TK dan usia sekolah dasar (SD) tidak terlalu akrab tentang asosiasi karena umumnya mereka belum memasuki usia baligh pubertas.


Namun, berbeda halnya dengan anak-anak setingkat SMP dan SMA. Pada usia ini, siswa sedang/ telah mengalami masa pubertas yang tentunya tidak sesuai dengan aturan Islam jika dua makhluk dengan jenis kelamin yang berbeda disatukan dalam kelas belajar. Dalam hal ini efek negatif akan terlihat. Selain terlihat kurang bermoral, juga dapat meningkatkan memotivasi hasrat seksual siswa.


Sebenarnya sistem pendidikan mencampurbaur antara siswa laki-laki dan siswa perempuan telah menuai banyak pro dan kontra di masyarakat. Di satu sisi, sistem pendidikan bisa mendapatkan keuntungan lebih mudah bagi pengelola pendidikan. Tapi di sisi lain, sistem pendidikan tidak sesuai dengan aturan Islam.

Dekadensi Moral di Indonesia
Salah Satu Contoh Dekadensi Moral di Indonesia


2. Kontes Pakaian (Busana) dan Tubuh

Dalam masyarakat sekarang tidak asing dengan kontes ini. Sangat sering diantara kita menemukan itu - hal-hal seperti ini dalam hidup kita. Pada mulanya tempat - tempat seperti diskotik, atau tempat eh oh lainnya terdengar sangat menjijikkan. Tetapi tidak seperti sekarang, tempat-tempat seperti itu sangat umum terdengan di telinga kita. Bahkan sekarang telah banyak dibuka tempat - tempat seperti penginapan rek atau Café yang memungkinkan pelaku mudah untuk melakukan eh oh (perzinahan).


3. Dominasi Pornografi di Semua Aspek Kehidupan

Berbagai alat komunikasi sekarang ini yang serba canggih telah mempengaruhi psikologi seseorang muslim. Tayangan televisi, gambar - gambar di majalah dan artikel yang mengarah ke hal-hal yang pornografi berkontribusi terhadap fenomena kemerosotan moral di Indonesia. Selain itu, akses jaringan pornografi di dunia maya (Internet) di era ini semakin mudah dan tidak terkendali. Jadi tidak aneh jika kerusakan moralpun menjadi semakin tidak terkendali.


4. Kurangnya Pengawasan Orangtua Dari Perilaku Anak.

Di Zaman sekarang, kebanyakan orang tua lebih peduli urusan mereka masing-masing dibandingkan menemani anak-anak mereka di rumah. Mereka menghabiskan sebagian besar waktu mereka di luar rumah untuk bekerja, sehingga pengawasan terhadap anak-anak semakin kurang. padahal, orang tua memainkan peran besar dalam membimbing anak sehingga anak tidak jatuh ke hal-hal yang tidak diinginkan.


5. Tidak Selektif Dalam Memilih Teman

Setiap orang berhak untuk memiliki teman. Tetapi tidak semua teman membawa kita ke arah yang lebih baik. Bila perasaan atau nalusi kita lemah dalam beradaptasi dengan teman kita. Maka kebanyakan dari mereka mudah dipengaruhi oleh kata-kata yang mengajak terhadap hal-hal yang negatif. Kecuali di antara mereka yang benar-benar memiliki iman yang kuat. Jadi, peran seorang teman sangat dominan dalam pergaulan sehingga islam menganjurkan umatnya untuk lebih selektif dalam memilih teman yang memungkinkan mampu untuk membimbing kita ke arah yang lebih baik.


6. Faktor Lingkungan

Di mana bumi di pijak disitu langit di junjung, sepertinya pribahasa memerlukan proses penjabaran yang lebih mendalam, setiap di antara kita bila hidup normal pasti akan menemukan hal-hal - hal baru. Bila lingkungan sekitar kita baik, maka kita mendapatkan dampaknya juga akan baik. Seperti halnya jika kita berada disekitar orang-orang terdidik atau orang-orang yang kuat imannya. Namun juga sebaliknya, jika kita berada di lingkungan yang tidak menguntungkan, seperti dalam lingkungan kriminal, hal itu juga akan mempengaruhi sikap dan kepribadian kita. Namun itu semua kembali ke pribadi kita. seberapa bijak atau kuat iman kita dalam menanggapi berbagai persoalan di lingkungan sekitar kita.

No comments:

Post a Comment